Manfaat lain Ragi Tape!

Masker Ragi Tape dapat mengencangkan kulit wajah

7 Jenis Hutan di Indonesia

Indonesia kaya akan flora yang terpendam di Pelosok Negeri

Masker telur ayam yang populer saat ini!

Cara tepat untuk cantik alami tanpa efek samping

This is default featured slide 4 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.This theme is Bloggerized by Lasantha Bandara - Premiumbloggertemplates.com.

This is default featured slide 5 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.This theme is Bloggerized by Lasantha Bandara - Premiumbloggertemplates.com.

Tampilkan postingan dengan label Pelajaran. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Pelajaran. Tampilkan semua postingan

Senin, 06 Maret 2017

KOLOID PADA ROTI

KOLOID PADA ROTI
        I.            Judul Percobaan   
Pembuatan Koloid Berupa Cake Brownies Kukus
    II.        Tujuan Percobaan
Untuk mengetahui salah satu penerapan konsep koloid dalam pembuatan cake.
    III.            Landasan Teori       
1.      Pengertian koloid
Koloid adalah suatu bentuk campuran yang keadaannya terletak antara larutan dan campuran kasar. Meskipun secara makrokopis koloid tampak homogen, tetapi koloid digolongkan ke dalam campuran heterogen. Campuran koloid pada umumnya bersifat stabl dan tidak dapat disaring. Ukuran partikel koloid terletak antara 1 nm – 100 nm. Sistem koloid terdiri atas terdispersi dengan ukuran tertentu dalam medium pendispersi. Zat yang didispersikan disebut fase terdispersi, sedangkan medium yang digunakan untuk mendispersikan disebut medium dispersi. Fase terdispersi bersifat diskontinu ( terputus-putus ), sedangkan medium dispersi bersifat kontinu. ( Keenan, 1984 )
Dalam campuran homogen dan stabil yang disebut larutan, molekul, atom, ataupun ion disebarkan dalam suatu zat kedua. Dengan cara yang agak mirip, materi koloid dapat dihamburkan atau disebarkan dalam suatu medium sinambung, sehingga dihasilkan suatu disperse ( sebaran ) koloid atau sistem koloid. Selai, mayones, tinta cina, susu dan kabut merupakan contoh yang dikenal. Dalam sistem-sistem semacam itu, partikel koloid dirujuk sebagai zat terdispersi ( tersebar ) dan materi kontinu dalam mana partikel itu tersebar disebut zat pendispersi atau medium pendispersi. ( Arsyad, 2001 )

Zat
terdispersi
Zat
pendispersi
Nama
tipe
Contoh
Gas

Gas

Cairan

Cairan

Cairan


Padat

Padat

Padat
Cairan

Padat

Gas

Cairan

Padat


Gas

Cair

Padat
Busa

Busa padat

Aerosol padat

Emulsi

Emulsi padat


Aerosol padat

Sol

Sol padat
Krim kocok, busa bir, busa sabun.
Batu apung, karet busa.

Kabut, awan.

Mayones, susu.

Keju ( lemak mentega didispersikan dalam kasein ), mentega.
Asap, debu.

Kebanyakan cat, pati dalam air, selai.
Banyak aliase, intan hitam, kaca rubi.

2.    Sifat-Sifat Koloid
Beberapa sifat-sifat koloid yang khas, yaitu:
a) Efek Tyndall
Efek Tyndall adalah suatu efek penghamburan berkas sinar oleh partikel-partikel yang terdapat dalam sistem koloid, sehingga jalannya berkas sinar terlihat.
b) Gerak Brown
Gerak Brown adalah gerakan terpatah-terpatah (gerak zig-zag) yang terus-menerus dalam sistem koloid.
c) Diffusi dan Filtrasi
Partikel koloid lebih sulit berdifusi bila dibandingkan dengan larutan sejati. Hal ini disebabkan ukuran partikel koloid lebih besar dibandingkan dengan partikel larutan sejati. Selain itu ukuran partikel koloid juga menyebabkan partikel koloid tidak dapat disaring dengan kertas biasa, tetapi harus dengan penyaring ultra.
d) Adsorpsi
Adsorpsi adalah proses penyerapan zat/partikel/molekul pada permukaan diri zat tersebut sehingga koloid akan memiliki muatan listrik. Antara partikel koloid dengan ion-ion yang diadsorpsi akan membentuk beberapa lapisan, yaitu:
a) Lapisan pertama ialah lapisan inti yang bersifat netral, terdiri atas partikel koloid netral.
b) Lapisan ion dalam ialah lapisan ion-ion yang diadsorpsi oleh koloid.
c) Lapisan ion luar
e) Kesetabilan koloid
Kesetabilan kolid ditentukan oleh muatan listrik yang dikandung partikel koloid. Muatan listrik dapat dilucuti, misalnya dengan penambahan zat yang bersifat elektrolit, akibatnya akan terjadi penggumpalan koloid atau pengendapan koloid
e) Elektroforesis
Elektroforesis adalah peristiwa pemisahan koloid yang bermuatan. Partikel-partikel koloid yang bermuatan dengan bentuan arus listrik akan mengalir ke masing-masing elektroda yang bermuatannya berlawanan. Partikel yang bermuatan positif bergerak menuju ke elektroda positif.
f) Koloid Pelindung
Koloid pelindung adalah koloid yang dapat melindungi koloid dari proses koagulasi atau penggumpalan. Ada beberapa koloid pelindung yang digunakan pada emulsi, misalnya casein dalam susu. Jenis koloid ini disebut emuglatol.
g) Dialisis
Dialisis adalah proses penyaringan koloid dengan menggunakan kertas perkamen atau membran yang diletakan di dalam air yang mengalir
h) Koloid Liofil dan koloid Liofob
Umumnya terjadi pada koloid yang fase terdispersinya padatan dan mediumnya cairan atau berupa sol, sehingga lebih dikenal sebagai sol liofil atau sol liofob.
Sol liofil adalah sol di mana fase terdispersinya senang akan medium pendispersinya (senang akan cairan) atau di katakan juga afinitas atau daya tarik terhadap mediumnya sangat kuat.
Sol liofob adalah kebalikan dari sol liofil, di mana partikel fase terdispersinya kurang/tidak senang akan cairannya (mediumnya).

Pembuatan Koloid
Jika kita atau sebuah industri akan memproduksi suatu produk berbentuk koloid, bahan bakunya adalah larutan (partikel berukuran kecil) atau suspensi (partikel berukuran besar). Didasarkan pada bahan bakunya, pembuatan koloid dapat dilakukan dengan dua cara, yaitu sebagai berikut:
 1. Kondensasi
Kondensasi adalah cara pembuatan koloid dari partikel kecil (larutan) menjadi partikel koloid. Proses kondensasi ini didasarkan atas reaksi kimia; yaitu melalui reaksi redoks, reaksi hidrolisis, dekomposisi rangkap, dan pergantian pelarut.
2. Dispersi
Dispersi adalah pembuatan partikel koloid dari partikel kasar (suspensi). Pembuatan koloid dengan dispersi meliputi: cara mekanik, peptisasi, busur Bredig, dan ultrasonik.

Koloid pada roti

Syarat yang utama dalam pembuatan roti adalah serasi pencampuran oleh pengadaan gas, kedua oleh koagulan dari suatu material pemanasan dalam oven sehingga gas tertahan dan struktur material distabilisasi. Pada prinsipnya pembuatan roti terdiri dari tahap-tahap yaitu (1) pencampuran adonan (dough), (2) fermentasi adonan, dan (3) pemanggangan.
Tujuan dari pencampuran adalah untuk membuat adonan yang sempurna agar adonan mengembang dan mempunyai tekstur yang lembut, pori-pori kecil, dan tidak bantat. Pada proses pencampuran adonan terjadi perubahan sebagian dari pati berubah menjadi gula.
Roti yang memiliki bentuk padat dan mempunyai pori-pori kecil ternyata merupakan  salah satukoloid yaitu buih padat. Buih Padat adalah sistem koloid dengan fase terdisperasi gas dan dengan medium pendisperasi zat padat. Kestabilan buih ini dapat diperoleh dari zat pembuih juga (surfaktan). Proses peragian pada roti yang melepas gas karbondioksida terlibat dalam proses pembuatan roti. Zat pembuih protein gluten dari tepung kemudian akan membentuk lapisan tipis mengelilingi gelembung-gelembung karbondioksida untuk membentuk buih padat.
Proofing akan terjadi pada proses ini yaitu tingkat dimana gas CO2 yang dihasilkan dalam adonan berada pada tingkat terakhir dan memberi volume pada roti. Organisme yang memegang peranan penting dalam proses fermentasi makanan mulai dari khamir, kapang, sampai pada bakteri. Jenis fermentasi yang disebabkan oleh mikroba tertentu sangat berbeda dengan jenis mikroba lainnya
Pada prinsipnya roti dapat dibuat dari berbagai jenis tepung, seperti terigu, jagung, beras, garut, singkong, dan lain-lain. Namun, dalam proses pembuatannya terigu merupakan bahan baku yang paling ideal untuk pembuatan roti. Roti umumnya dibuat dari tepung terigu karena tepung terigu mampu menyerap air dalam jumlah besar, dapat mencapai konsistensi adonan yang tepat, memiliki elastisitas yang baik untuk menghasilkan roti dengan remah halus, tekstur lembut, volume besar, dan mengandung 12-13 persen protein.

  IV.            Alat dan Bahan
Alat :
1.      Wadah stainless besar
2.      Loyang
3.      Sendok
4.      Kukusan/steamer
5.      Kain penutup
6.      Piring kecil

Bahan :
1.     Tepung Pondan Brownies Kukus           1 kotak
2.     Mentega                                                      
3.     Butter                                                            50 gram
4.     Telur                                                              5 butir
5.     Cokelat blok                                                 150 gram
6.     Vanilli                                                             Secukupnya

    V.            Cara Membuat

  VI.            Hasil Percobaan
o   Pada proses pencampuran adonan, terjadi perubahan sebagian dari pati berubah menjadi gula.
o   Cake memiliki bentuk padat dan mempunyai pori-pori kecil yang ternyata merupakan salah satu jenis koloid yaitu busa padat. Busa padat adalah sistem koloid dengan fase terdispersi gas dan dengan medium pendispersi zat padat. Hal tersebut disebabkan oleh adanya protein dari tepung yang kemudian akan membentuk lapisan tipis mengelilingi gelembung-gelembung karbondioksida untuk membentuk buih padat.

o   Pada saat pengocokan telur dan mentega timbul buih hal ini menandakan bahwa terjadi emulsi. Karena kedua jenis zat cair ini tidak saling melarutkan. Kuning telur berperan sebagai emulgator kolesterol dan lemak. Emulgator yang terkadung dalam kunnig telur adalah lesitin yang berfungsi untuk mengikat dan menjaga tekstur agar tetap stabil dan tidak hancur.
o   Karena cara pembuatan cake sudah dikenal pada umumnya, jadi kami sama sekali tidak menemukan sedikitpun kegagalan di dalam percobaan koloid ini.

VII.            Kesimpulan
Dari percobaan tersebut, dapat disimpulkan bahwa:
1.     Cara pembuatan koloid pada cake ini sendiri adalah dengan cara fisika, yaitu cara dispersi dengan mekanik. Cara mekanik adalah cara pembuatan koloid dengan teknik penumbukan dan pengadukan. 
2.     Cake memiliki bentuk padat dan mempunyai pori-pori kecil yang ternyata merupakan salah satu jenis koloid yaitu busa padat. Busa padat adalah sistem koloid dengan fase terdisperasi gas dan dengan medium pendisperasi zat padat.
3.     Putih telur yang dikocok pada pembuatan cake tersebut merupakan koloid yang dibentuk oleh fasa terdispersinya gas dalam medium pendispersinya cair, yang disebut dengan buih atau busa.

Selasa, 14 Januari 2014

Resensi Buku

Judul Buku     : Pendidikan Lingkungan    Kehidupan Jakarta
Pengarang     : Ni Ketut Seni Arianti
Desainer Saampul : Teja Sukmana Rais
Penerbit         : Widya Utama
Pencetak        : PT Dian Rakyat, Jakarta
Cetakan          : I, tahun 2009
Tebal Buku     : viii+136 halaman
ISBN                : 978-979-728-795-5
Harga Buku    : Rp 28.900

            Buku ini ditulis oleh Ni Ketut Seni Arianti. Beliau adalah Ketua MGMP PLKJ Jakarta Timur dan Guru mata pelajaran PLKJ di SMPN 49 Jakarta Timur. Ia telah lulus dari SMKI Denpasar tahun 1984 dan telah lulus dari IMNI jurusan Managemen Pendidikan pada tahun 2009. Ia mendapat gelar S.Pd dalam bidang administrasi pendidikan setelah lulus dari IKIP pada tahun 1998.
Buku ini disusun berdasarkan Kurikulum pendidikan muatan lokal terbaru DKI Jakarta untuk SMP. Melalui buku ini siswa dapat mempelajari sejarah perkembangan kota Jakarta, lingkungan alam, lingkungan sosial budaya, serta pola perilaku masyarakat Jakarta dalam kehidupan sehari-hari.
Dalam buku ini dipaparkan berbagai masalah yang timbul di kota Jakarta dan cara menanggulanginya. Serta aktivitas-aktivitas yang dimuat dalam buku ini membuat siswa lebih aktif dalam proses belajar mengajar. Serta menumbuhkan budi pekerti dan kepedulian lingkungan alam serta sosial budaya di Jakarta, kesadaran dalam hidup bermasyarakat di kota besar, serta untuk memperluas pengetahuan tentang lingkungan Jakarta.
          Ciri khas dari buku ini terdapat berbagai aktivitas dalam bentuk diskusi, jelajah internet, studi lapangan, analisis, dan observasi. Setiap bab juga memuat rangkuman serta foto, grafik, dan tabel yang bertujuan agar siswa dapat mempelajari kembali materi yang sudah dibahas dan lebih mudah memahami konsep pelajaran. Soal-soal dalam setiap bab dan akhir semester juga disajikan untuk menguji daya ingat dan pengetahuan siswa.
          Di dalam  buku ini terdapat “jendela ilmu” dan “tahukah kamu” yang dapat memperkaya pengetahuan siswa mengenai lingkungan alam dan lingkungan sosial budaya Jakarta.  Di bagian belakang buku ini juga terdapat glosarium dan indeks yang berisi istilah-istilah bahasa yang sering muncul. Dan juga terdapat daftar rujukan dan daftar pustaka.
Pada bab pertama, dijelaskan tentang Penanggulangan Bencana Banjir (hal 1-12). Bab ini memaparkan penyebab terjadinya banjir, daerah rawan banjir, akibat banjir, serta pencegahan dan penanggulangan bahaya banjir.
Pada bab kedua, menjelaskan tentang Penanggulangan Bahaya Kebakaran (hal 15 – 28). Yang berisi tentang penyebab terjadinya kebakaran, akibat yang ditimbulkan dari kebakaran, serta pencegahan dan penanggulangan bahaya kebaran.
Bab ketiga menjelaskan tentang Larangan Merokok dan Penyalahgunaan Zat Berbahaya (halaman 31-50). Pada bab ini dijelaskan mengenai rokok dan zat berbahaya, seperti narkoba dan zat adiktif lainnya.
Bab keempat berisi tentang Keselamatan dan Keamanan Diri  (halaman 53-62). Pada bab ini, membahas mengenai mengenal keselamatan dan keamanan diri, tindak pidana terhadap perilaku pelajar yang menyimpang, serta menjaga keselamatan dan keamanan mental spiritual.
Pada halaman 65-67 terdapat soal-soal latihan akhir semester 1 yang merupakan gabungan dari soal-soal materi yang ada pada bab 1 sampai dengan bab 4. Dan juga terdapat ulangan umum semester 1 yang diberikan penulis agar siswa dapat mempersiapkan diri menghadapi ujian akhir semester 1.
Selanjutnya, pada bab kelima menjelaskan tentang Kependudukan di DKI Jakarta (hal 71 – 84). Bab ini memaparkan meningkatnya penduduk di DKI Jakarta, Urbanisasi ditinjau dari pengertian, dampak, dan cara mencegahnya, serta pentingnya administrasi kependudukan.
Pada bab keenam menjelaskan tentang Tata Ruang Kota. Pada bab ini dijelaskan mengenai rencana umum tata ruang kota DKI Jakarta, keterangan rencana tata letak bangunan, pengawasan pembangunan kota, serta izin penggunaan bangunan (IPB).  
Bab ketujuh berisi tentang Rumah Susun di DKI Jakarta (halaman 107-122). Pada bab ini, penulis membahas materi tentang mengenal rumah susun, pentingnya rumah susun di DKI Jakarta, tujuan pembangunan rumah susun, ciri khas kelengkapan rumah susun, pengertian pemilik dan penghuni rumah susun,  tugas pokok pengelola, penghimpun, dan penghuni rumah susun, mewujudkan keamanan, kebersihan, dan keakraban dirumah susun, serta menjaga ketertiban dan keindahan di rumah susun
Pada setiap bab, diakhiri dengan soal-soal Evaluasi Akhir untuk menguji kompetensi siswa tentang materi yang telah dipelajari.
          Pada bagian akhir terdapat soal Evaluasi Akhir Semester 2 (halaman 126) dan Ulangan Umum Semester 2 (halaman 128) yang dapat membantu siswa memahami materi lebih lanjut dan mempersiapkan diri menghadapi ujian akhir semester 2.
          Secara menyeluruh, buku ini menjelaskan poin-poin penting dalam kehidupan di kota Jakarta. Terlebih memberikan contoh peraturan atau Undang-Undang yang benar dan lengkap. Penggunaan bahasanya juga mudah dimengerti.

          Tujuan akhir dari buku ini adalah membentuk kebiasaan hidup siswa yang sehat dan teratur serta menghargai seni dan budaya Jakarta. Penulis berharap banyak buku ini berguna sebagai panduan siswa dalam mempelajari lingkungan kehidupan Jakarta. Untuk mendapatkan pemahaman mengenai keseluruhan isi buku ini, bacalah buku tersebut secara utuh.

Senin, 13 Januari 2014

Membuat Yogurt dengan Mudah dan Sederhana!

Bioteknologi adalah penggunaan prinsip ilmiah untuk menghasilakan barang dan jasa yang bermanfaat untuk kepentingan manusia.

Bioteknologi ada 2, yaitu :
1)      Konvesional (tradisional) : Penggunaan mikroorganisme secara langsung.
2)      Modern : Penggunaan sebagian mikroorganisme atau mikroorganisme yang sudah diproses.

Contoh bioteknologi konvesional :
1.       Yogurt
Bakteri yang dibutuhkan Lactobacillus casei/Lactonbacillus bulgaris/Streptococcus thermophillus.
  1. Susu dipanaskan kira-kira sampai 90°C. Kira-kira 5 menit (dipastrerisasi)
  2. Susu didinginkan sampai suhu 32°C-40°C
  3. Ditambahkan bakteri; Diperam/difermentasi 5 jam.
  4. Bakteri dapat mengubah glukosa menjadi asam laktat (PH turun hingga 4,0)
  5. Ditambahkan rasa (selera)


·         Perbanyakan yogurt
Bahan :
-          1 yakult*maap sebut merk -_-
-          1 gelas susu
Cara :
  1. Setelah susu dibuat, menggunakan air panas.
  2. Dinginkan susu di suhu ruangan.
  3. Bila suhu susu sudah suhu ruangan, tambahkan 1 yakult (yakult harus suhu ruangan). Jangan diaduk.
  4. Diamkan sekitar ±15 jam di kondisi ruangan tertutup (gelas ditutup)
  5. Perlu diingat gelas harus bersih.
  6. Setelah ±15 jam masukkan yogurt ke dalam lemari es.

Sabtu, 11 Januari 2014

7 Jenis Hutan di Indonesia

Haiii readers, kali ini saya akan membahas macam-macam hutan di Indonesia. Tentunya kalian tau dong apa itu hutan. Ya, Indonesia selain kaya akan budayanya, juga kaya akan flora dan faunanya. Agar kekayaan alam yang negeri kita ini tetap lestari, yuk sama-sama menjaga lingkungan dari hal terkecil. Supaya anak cucu kita masih menikmati sejuknya pepohonan dan berbagai fauna langka tidak punah.
Mau tahu lebih lengkapnya? yuk diliattt :)

Flora di Indonesia berdasarkan jenis hutan ada 7 jenis, yaitu :
1) Hutan Hujan Tropis
Hutan hujan tropis adalah hutan heterogen yang terdiri dari berbagai jenis tumbuhan yang tumbuh di daerah tropis.
 Ciri-ciri hutan hujan tropis yaitu :
a) Daunnya lebat dan selalu hijau sepanjang tahun
b) Rata-rata ketinggian pohon 60 meter dan besar
c) Banyak sinar matahari bersinar sepanjang tahun
d) Curah hujan tinggi dan merata sepanjang tahun
e) Iklimnya lembab
f) Temperatur udara tinggi
g) Tumbuh ribuan jenis flora
h) Hutan ini banyak terdapat di dataran rendah hingga ke pegunungan

 2) Hutan Musim
Hutan musim adalah merupakan hutan yang ada di daerah tropis yang memiliki musim hujan dan musim kemarau.
• Hutan musim dijumpai di daerah panas dan mempunyai perbedaan musim hujan dan kemarau yang jelas.
• Pohon di hutan musim tahan kering , karena ada lapisan pelindung kulit kayu mati yang tebal pada batangnya.
• Hutan musim sering disebut hutan homogin karena tumbuhan hanya terdiri satu jenis.
Ciri-ciri hutan musim yaitu :
a) Pada musim kemarau pohon kering meranggas dan daunnya rontok, untuk mengurangi penguapan air.
b) Pada musim hujan mulai bertunas dan berdaun lebat hijau kembali.
c) Dalam hutan musim tumbuhan bawah cukup lebat karena sinar matahari dapat mencapai permukaan tanah.
d) Jenis pohon di hutan musim seperti jati, angsana, kapuk, cendana, pinus.
e) Hutan musim terdapat di Jawa Tengah, Jawa Timur, dan Nusa Tenggara .

3) Hutan Bakau (Hutan Mangrove)
Hutan bakau adalah hutan yang terletak pada garis pantai yang landai dan berlumpur dengan ketinggian 0-5 meter dan terkena pasang surut air laut.
• Hutan bakau bermanfaat untuk mencegah terjadinya erosi/abrasi (pengikisan lapisan tanah oleh hantaman gelombang air laut)
 Ciri-ciri hutan bakau yaitu :
a) Memiliki akar yang tinggi menjulang di atas permukaan air laut untuk mendapatkan oksigen pada waktu air laut surut, dan terendam pada waktu air laut pasang.
b) Mempunyai daun yang tebal dipermukaannya. Gunanya untuk mengurangi penguapan.
c) Suhu rata-rata 26°
d) Sebagai tempat bertelurnya ikan dan udang sehingga wilayah ini penyebab bibit ikan bermula.
e) Hutan bakau terdapat di pantai-pantai wilayah Indonesia, seperti di Pantai Timur Sumatera, Pantai Utara Jawa, Kalimantan, Pantai Selatan Papua, Pantai Riau.
f) Di belakang hutan bakau ke arah darat tumbuh pohon nipah yang daunnya berguna sebagai atap.

 4) Hutan Rawa Air Tawar dan Hutan Rawa Gambut
• Hutan rawa air tawar meliputi, rawa-rawa yang cukup luas di Indonesia.
• Hutan rawa air tawar digunakan untuk pertanian yang baik dan daerah persawahan.
• Hutan rawa Gambut menghasilkan kayu ranin, dimanfaatkan untuk peralatan rumah.
• Hutan rawa gambut terdapat di Pantai Timur Sumatera, Kalimatan Barat, dan Kalimantan Tengah.

 5) Hutan Lumut
 Hutan lumut/padang lumut/tundra merupakan tumbuhan alami yang terdapat di puncak pegunungan tinggi dengan suhu rendah yang selalu tertutup kabut.
 Ciri-ciri Hutan lumut yaitu :
a) Akibat letaknya terlalu tinggi dari permukaan air laut, udara sangat lembab dan suhu sangat rendah.
b) Banyak pohon-pohon penuh lumut.
c) Terdapat di Puncak Papua, Sumatera, dan Sulawesi.

 6) Hutan Sabana/Saruan
Hutan sabana merupakan padang rumput yang dipenuhi oleh semak belukar/pepohonan yang bergerombol. Ciri-ciri hutan sabana :
a) Memiliki kemarau yang panjang dan suhu panas yang tinggi dan curah huja sedikit.
b) Flora yang tumbuh di hutan sabana yaitu cendana, lontar, akasia, palem, dan padang rumput yang bergerombol.
c) Hutan sabana cocok untuk peternakan kambing, sapi, kuda karena kualitas rumputnya bagus.
d) Hutan sabana terdapat di timur Jawa Timur, NTB, NTT, Madura, dan Gayo (Aceh) 

7) Hutan Stepa
 Merupakan padang rumput yang luas namun tidak ada semak belukar/pohon yang bergerombol.
 Ciri-ciri Hutan Stepa :
a) Sangat sedikit curah hujannya dan cocok untuk lahan peternakan.
b) Tidak ada semak belukar.
c) Terdapat di NTT (Sumba, Sumbawa, Flores, Timor)

Semoga bermanfaat readers :)